10 Mar 2016

Sinopsis Film Ngidam

Presmis film:

Naima adalah seorang ibu hamil (bisu) yang ngidam gojek, sehingga anaknya yang lahir jadi pemimpin yang memiliki inovasi baru,tepat janji, memberi kenyamanan, keselamatan, dan pelayanan prima seperti GOJEK

Sinopsis film:

Film ini bercerita tentang Naima seorang Ibu (bisu) yang sedang hamil. ia ngidam sesuatu yang tidak di mengerti oleh Sadrukun suaminya.
Sadrukun sempat panik ketika sang istri membawa silet, dan menghampirinya. Sadrukun lari karena ketakutan.
Ternyata Naima hanya ingin mengambil pensil yang ada di kantong Sadrukun. Ia membawa silet karena pensil itu belum di serut.
Naima hanya ingin menulis agar ia di panggilkan GOJEK untuk menjemput dukun beranak. Sebab ia merasa sudah waktunya anak yang di perutnya segera lahir.
Naima ngidam GOJEK, karena GOJEK telah membantunya beberapa kali. Selalu tepat waktu, dan tak pernah mengecewakannya.Ia berharap anaknya nanti akan berguna kepada masyarakat seperti GOJEK.
Setelah anak itu dewasa ia berhasil menjadi pemimpin yang disegani di kotanya. Masyarakat senang atas pemerintahannya, katanya ia selalu memiliki inovasi baru, tepati janji, dan memberikan pelayanan prima. Sebagaimana komentar salah satu masyarakat “saya memilih dia, sebagaimana saya memilih GOJEK

Skenario Film Ngidam




SKENARIO FILM PENDEK
NGIDAM




PENULIS SKENARIO
RIFKI AFFANDI M

DIRECTOR
ANDI PENDOWO LIMO





K PICTURES
2016



 
SC.1.INT.Rumah-Sore
Kamera menyorot tangan Naima yang menyodorkan kertas dengan tulisan “mangga”
Tangan Sadrukun  menyodorkan mangga
Fade out:
Judul : NGIDAM
Fade Out:
SC.2.INT.Rumah-Sore
Sadrukun menonton tv.
(VO News Angker TV)
Dari sumenep, kecamatan kota, Seorang istri tega membunuh suaminya lantaran tidak bisa memberikan nafkah batin . Tidak puas dengan membunuh, sang istri memutilasi kemaluan suaminya.
Naima mematikan tv menggunakan tangan kirinya. Sadrukun menengok kebelakang, ia ketakutan.
Naima memegang silet ditangan kanannya. Berjalan pelan mendekati Sadrukun.
Sadrukun berjalan mundur sampai membentur tembok. Ia kaget karena Naima menghilang dari tempat semula.
Tiba-tiba Naima berada dibelakang Sadrukun. Ia menggorok leher Sadrukun hingga berdarah. Sadrukun  berteriak... (ternyata hanya ilusinasinya saja)
Intercut:
Naima berada di depan Sadrukun.  Sadrukun berteriak. Naima mengambil pensil yang ada di saku baju Sadrukun.
Naima menyerut pensil, mengambil kertas, dan menulis. “panggilkan GOJEK”
Fade Out:
SC.3. EXT.Jalan Raya-Sore
Flasback:
Naima memesan Gojek.
Gojek datang. Pergi mengantar Naima.
Fade out:
Naima bawa  belanjaan, memesan Gojek.
Gojek datang. Pergi mengantar Naima.
Fade out:
SC.3. EXT. Taman Adipura-Sore
Establish suasana jalan raya. Seorang reporter live report wawancara dan testimoni 100 hari kepemimpinan Darso.
Reporter 1
Pak darso, di 100 hari kepemimpinan bapak, apakah bapak optimis kota sumenep akan lebih baik.
Darso
Sangat optimis, karena bagi saya, peran masyarakat adalah yang utama. Tanpa mereka pemerintahan saya tidak akan berjalan. Dan tugas saya adalah, memberikan inovasi, kenyamanan, keselamatan, intinya memberi pelayanan prima.
Reporter 1
Ok terimkasih bapak, ya pemirsa. Jika pak darso yakin akan membuat sumenep lebih baik. Sekarang kita minta tanggapan masyarakat, mengenai kepemimpinan pak darso.
Kita sudah terhubung dengan Rita Lestari. Rita.
Intercut:
Reporter 2
Ya pemirsa, saat ini saya sudah berada di taman adipura sumenep. Disamping saya sudah ada salah satu mahasiswi.
  Reporter berjalan mendatangi mahasiswi.
Reporter 2
          Selamat sore mbak
Dini
Sore
Reporter
Oh iya mbak, apakah mbak puas dengan kepemimpinan pak darso.
Dini
Sangat puas, pelayanan yang diberikan bisa dirasakan langsung oleh saya, dan masyarakat tentunya.
Reporter
Kalau di umpamakan, pak darso itu seperti apa.
Dini
mmm.... Gojek, ya Gojek. Pak darso itu seperti gojek, selalu memberikan inovasi yang segar, tepati janji, dan pelayanannya sangat memuaskan.
Saya memilih pak darso, sebagaimana saya memilih Gojek.
Reporter
Ok, terimakasih mbak. Baik pemirsa, demikian laporan dari alun-alun kota sumenep. Saya Rita Lestari, kembali ke studio.
Cut to:
SC.4. EXT. Rumah-Sore
Sadrukun dan Naima menonton TV.
Sadrukun
(tangannya menunjuk TV) buk, buk, Anak kita, anak kita, itu loh buk
Kamera menyorot foto pak darso yang dipegang oleh Naima, Ibunya.

THE END