(Rekap
Dari Mentoring oleh Joko Anwar Dalam Acara Master Class film Workshop di
Qubicle Center Jl Senopati no79 Jaksel, pkl 13.30 – 18.30, Hari Jumat, 4
Desember 2015)
Di
tulis Oleh Dimas Jayadinekat
STORYTELLING
Sebagai Penulis scenario dan Sutradara kita harus
memahami apa yang dinamakan Story
Telling.
Apakakah STORYTELLING itu??
STORYTELLING is An Act of persuasion. Storytelling
adalah sebuah tindakan persuasive ke orang lain. Jadi, orang harus rela untuk mendengarkan
apa yang kita sampaikan.
Dan sudahkah orang rela mendengarkan dan menyaksikan
apa yang kita sampaikan di dalam setiap karya kita?
Di dalam bercerita atau ber “storytelling” Kita harus
memahami apa yang dinamakan sebagai CERITA/STORY.
Apakah yang dimaksud dengan Story atau Cerita itu?
STORY is A Character’s journey from having his life
in balance, how and why he gets thrown out of balance and how he tries to
restore it.
Jadi Cerita itu adalah perjalanan Karakter dari
kehidupan seimbangnya , hingga bagaimana
dan mengapa ia akan dilemparkan keluar dari keseimbangan kemudian bagaimana ia
mencoba untuk mengembalikannya .
Kita harus tahu apa yang akan diceritakan dan tanpa
adanya karakter maka cerita tidak akan pernah ada. Ya, Karakter adalah elemen
terpenting di dalam sebuah cerita. Sehingga karakter di dalam cerita yang kita
buat harus kuat sekali.
Dan Apa yang membuat Karakter di dalam cerita menjadi
kuat? Tidak ada cara lain selain membuat karakter kita menjadi BELIEVABLE alias Terpecaya.
Penonton atau penikmat cerita kita harus yakin bahwa
karakter kita ini memng layak untuk dipercaya. Artinya, apa yang di tampilkan
oleh karakter harus mewakili perasaan dan pengalaman penonton. Harus kental
nilai humanisme nya, dalam artian bahwa sesungguhnya penonton itu ingin melihat
si karakter itu adalah perwakilan dirinya di dalam dunia cerita. Emosinya,
pikirannya harus sesuai dengan apa yang di rasakan atau ditangkap sesuai nalar
penonton.
Karakter yang believable itu harus menimbulkan
aksi-reaksi yang kuat. Dan untuk menciptakan kondisi tersebut creator harus
membuat “Character history”. Dan setidaknya character history itu harus
meliputi empat hal, yaitu, pandangannya mengenai
1. Religion
2. Politic
3. Art
4. Sex
Keempat hal itulah yang membuat karakter yang kita
ciptakan menjadi menarik. Keempat hal itu bisa salah satu atau bahkan semuanya.
Bisa memandangnya dari sisi normative atau berdasarkan pandangan umum ataupun
dari sudut pandang berbeda yang mungkin harus melawan kebiasaan. Dengan memainkan
empat hal itu dan membahasnya secara mendalam membuat cerita kita hidup karena
memang empat hal itu yang selalu menjadi sudut pandang di dalam kehidupan
manusia.
Selain keempat hal itu, yang harus diingat adalah,
penonton melihat karakter kita berdasarkan dari durasi tayang film. Dari 0
menit sampai ke 90 atau 120 menit. Sehingga penulis dan sutradara harus mampu
menjelaskan character history tadi sebelum di lihat oleh pemirsa. Misalnya, apa
yang membuat si character melakukan sesuatu di dalam film, kebiasaanya, asal
sukunya, tingkat sosialnya, dan needs
and wants nya yang harus kuat sebelumnya sehingga pada saat dinikmati penonton
lebih “masuk” ke dalam cerita yang berjalan karena si karakter. Penulis
menjelaskan secara verbal dari tulisannya dan sutradara menjelaskannya secara
audio visual di dalam filmnya.
Kunci dari semua cerita adalah karakter, sehingga
universe/world/environment yang ada adalah terbentuk untuk mendukung si
karakter mencapai keinginannya.
Dan setelah karakter tercipta dengan sempurna maka
kita harus menciptakan universe yang konsisten bagi karakter.
CINEMATIC STORY
TELLING
Hal tersulit dari seorang sutradara adalah saat harus
menentukan sebuah shot. Untuk itu seorang sutradara harus menyiapkan semuanya.
Buatlah color palate sebelum membuat shot. Selain itu juga sutradara harus
menyiapkan story board atau video board agar tim dapat memahami kemauan
sutradara secara persis.
Sutradara adalah seorang pemimpin yang harus memimpin
banyak orang ahli di dalamnya. Seperti Director Of Photograpy, Art Director,
Editor, dan tim dibawah mereka. Seorang DOP akan berbicara bagaimana shot yang
tepat, nuansa gambar yang sesuai, dan segala hal berkaitan dengan gambar
lainnya. Begitupun dengan Art Director yang akan menyediakan segala kebutuhan
artistic dan setting di lokasi.
Sementara Editor akan berbicara sebagai
“sutradara” kedua di dalam pemilihan shot, penyisipan scoring music, dll.
Dengan kondisi seperti ini, jika Sutradara tidak jelas kemauannya maka akan
menjadi hal “chaos” di dalam sebuah produksi film.
Jadi, sutradara harus siap dengan segala jawaban dari
pertanyaan yang pasti akan dilontarkan oleh crew. Keahlian mereka tidak akan
berarti tanpa kepemimpinan dari seorang sutradara.
Yang terpenting dari sebuah shot, sutradara harus
memahami screen direction
Segala aspek yang ada di film harus di set up karena itu akan menyangkut ke
cinematic story telling.
Seorang sutradara harus mampu menerapkan Frame
Composition dengan tepat
Frame Composition :
-
Directing
The Eye
-
Balance/imbalance
-
Orentatition/Disorentation
-
Shapes
within A Frame
Cinematic Storytelling itu “menghajar” Sub Consius
mind (alam bawah sadar manusia) bukan menitik beratkan pada Consius mind (alam
sadar) manusia. Jika di dalam penyampaian Cinematic Storytelling itu disadar
oleh penonton berarti kita tidak berhasil!
Contoh, shot yang tertebak seperti di sinetron.
Misalnya orang marah, langsung di Close Up atau bahkan langsung di zooming.
Seorang sutradara harus :
1. Berkemampuan untuk memvisualisasikan mulai dari
awal film sampai akhir
2. Tahu betul apa yang dilakukannya
3. Open mind.