28 Jan 2016

Story Telling & Cinematic Story Telling


(Rekap Dari Mentoring oleh Joko Anwar Dalam Acara Master Class film Workshop di Qubicle Center Jl Senopati no79 Jaksel, pkl 13.30 – 18.30, Hari Jumat, 4 Desember 2015)

Di tulis Oleh Dimas Jayadinekat



STORYTELLING

Sebagai Penulis scenario dan Sutradara kita harus memahami apa yang dinamakan Story Telling.

Apakakah STORYTELLING itu??

STORYTELLING is An Act of persuasion. Storytelling adalah sebuah tindakan persuasive ke orang lain. Jadi, orang harus rela untuk mendengarkan apa yang kita sampaikan.
Dan sudahkah orang rela mendengarkan dan menyaksikan apa yang kita sampaikan di dalam setiap karya kita?

Di dalam bercerita atau ber “storytelling” Kita harus memahami apa yang dinamakan sebagai CERITA/STORY.

Apakah yang dimaksud dengan Story atau Cerita itu?

STORY is A Character’s journey from having his life in balance, how and why he gets thrown out of balance and how he tries to restore it.

Jadi Cerita itu adalah perjalanan Karakter dari kehidupan seimbangnya ,  hingga bagaimana dan mengapa ia akan dilemparkan keluar dari keseimbangan kemudian bagaimana ia mencoba untuk mengembalikannya .

Kita harus tahu apa yang akan diceritakan dan tanpa adanya karakter maka cerita tidak akan pernah ada. Ya, Karakter adalah elemen terpenting di dalam sebuah cerita. Sehingga karakter di dalam cerita yang kita buat harus kuat sekali.

Dan Apa yang membuat Karakter di dalam cerita menjadi kuat? Tidak ada cara lain selain membuat karakter kita menjadi BELIEVABLE alias Terpecaya.

Penonton atau penikmat cerita kita harus yakin bahwa karakter kita ini memng layak untuk dipercaya. Artinya, apa yang di tampilkan oleh karakter harus mewakili perasaan dan pengalaman penonton. Harus kental nilai humanisme nya, dalam artian bahwa sesungguhnya penonton itu ingin melihat si karakter itu adalah perwakilan dirinya di dalam dunia cerita. Emosinya, pikirannya harus sesuai dengan apa yang di rasakan atau ditangkap sesuai nalar penonton.

Karakter yang believable itu harus menimbulkan aksi-reaksi yang kuat. Dan untuk menciptakan kondisi tersebut creator harus membuat “Character history”. Dan setidaknya character history itu harus meliputi empat hal, yaitu, pandangannya mengenai

 1. Religion
 2. Politic
 3. Art
 4. Sex

Keempat hal itulah yang membuat karakter yang kita ciptakan menjadi menarik. Keempat hal itu bisa salah satu atau bahkan semuanya. Bisa memandangnya dari sisi normative atau berdasarkan pandangan umum ataupun dari sudut pandang berbeda yang mungkin harus melawan kebiasaan. Dengan memainkan empat hal itu dan membahasnya secara mendalam membuat cerita kita hidup karena memang empat hal itu yang selalu menjadi sudut pandang di dalam kehidupan manusia.

Selain keempat hal itu, yang harus diingat adalah, penonton melihat karakter kita berdasarkan dari durasi tayang film. Dari 0 menit sampai ke 90 atau 120 menit. Sehingga penulis dan sutradara harus mampu menjelaskan character history tadi sebelum di lihat oleh pemirsa. Misalnya, apa yang membuat si character melakukan sesuatu di dalam film, kebiasaanya, asal sukunya, tingkat sosialnya, dan  needs and wants nya yang harus kuat sebelumnya sehingga pada saat dinikmati penonton lebih “masuk” ke dalam cerita yang berjalan karena si karakter. Penulis menjelaskan secara verbal dari tulisannya dan sutradara menjelaskannya secara audio visual di dalam filmnya.

Kunci dari semua cerita adalah karakter, sehingga universe/world/environment yang ada adalah terbentuk untuk mendukung si karakter mencapai keinginannya.

Dan setelah karakter tercipta dengan sempurna maka kita harus menciptakan universe yang konsisten bagi karakter.


CINEMATIC STORY TELLING

Hal tersulit dari seorang sutradara adalah saat harus menentukan sebuah shot. Untuk itu seorang sutradara harus menyiapkan semuanya. Buatlah color palate sebelum membuat shot. Selain itu juga sutradara harus menyiapkan story board atau video board agar tim dapat memahami kemauan sutradara secara persis.

Sutradara adalah seorang pemimpin yang harus memimpin banyak orang ahli di dalamnya. Seperti Director Of Photograpy, Art Director, Editor, dan tim dibawah mereka. Seorang DOP akan berbicara bagaimana shot yang tepat, nuansa gambar yang sesuai, dan segala hal berkaitan dengan gambar lainnya. Begitupun dengan Art Director yang akan menyediakan segala kebutuhan artistic dan setting di lokasi.

Sementara Editor akan berbicara sebagai “sutradara” kedua di dalam pemilihan shot, penyisipan scoring music, dll. Dengan kondisi seperti ini, jika Sutradara tidak jelas kemauannya maka akan menjadi hal “chaos” di dalam sebuah produksi film.

Jadi, sutradara harus siap dengan segala jawaban dari pertanyaan yang pasti akan dilontarkan oleh crew. Keahlian mereka tidak akan berarti tanpa kepemimpinan dari seorang sutradara.

Yang terpenting dari sebuah shot, sutradara harus memahami screen direction

Segala aspek yang ada di film  harus di set up karena itu akan menyangkut ke cinematic story telling.

Seorang sutradara harus mampu menerapkan Frame Composition dengan tepat

Frame Composition :

-       Directing The Eye
-       Balance/imbalance
-       Orentatition/Disorentation
-       Shapes within A Frame

Cinematic Storytelling itu “menghajar” Sub Consius mind (alam bawah sadar manusia) bukan menitik beratkan pada Consius mind (alam sadar) manusia. Jika di dalam penyampaian Cinematic Storytelling itu disadar oleh penonton berarti kita tidak berhasil!

Contoh, shot yang tertebak seperti di sinetron. Misalnya orang marah, langsung di Close Up atau bahkan langsung di zooming.

Seorang sutradara harus :

1. Berkemampuan untuk memvisualisasikan mulai dari awal film sampai akhir
2. Tahu betul apa yang dilakukannya

3. Open mind.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar